Analisis Jurnal 3


Tema             : Marketing Mix  Terhadap Toko Eceran.

Judul             : Analisis Pengaruh Strategi Mareketing Mix Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen Toko Eceran Tradisional Kepanjen Malang.

Pengarang     : Tin Agustina Karnawati dan Lilik Nur Hamzah

Tahun            : 2008

Latar belakang :

Banyak bentuk bisnis yang menggunakan pola pelayanan yang diorientasikan pada pelanggan termasuk pada bisnis usaha eceran (retailer) yang dewasa ini begitu banyak  bermunculan dan menjamur terutama di lingkungan perkotaan, hal ini dapat dipengaruhioleh makin maraknya pertumbuhan usaha minimarket dan adanya banyak pembangunanRuko (Rumah Toko) di pusat perkotaan dan jalan raya yang dirasa strategis untuk usahatersebut. Yang dimaksud pengecer adalah sebuah organisasi yang membeli produk denganmaksud menjual produk itu kembali kepada para konsumen akhir.

Bisnis eceran, yang kini popular disebut bisnis ritel, merupakan bisnis yangmenghidupi banyak orang dan memberi banyak keuntungan bagi sementara orang lain.Bahkan pada saat krisis moneter melanda Indonesia di akhir tahun 1997, yang kemudian berkembang menjadi krisis ekonomi, perekonomian Indonesia banyak tertolong oleh sektor  perdagangan eceran, pengecer juga sebagai mata rantai perdagangan. Pasar ritel dapattumbuh terus sebagai akibat dari perkembangan berbagai bidang, pertama yangmempengaruhi pertumbungan pasar ritel adalah perkembangan demografi. Pangsa pasar ritel periode Mei 2002–April 2003 menunjukkan Jawa Barat (termasuk Depok, Bogor,Tengerang, dan Bekasi) mencapai 20,7 %, Jawa Tengah 16,3 %, Jawa Timur 15,9%,Jakarta 15,0%, Sumatra Utara 11,0%, Sumatra Selatan 7,8%, Daerah-daerah lain13,4% (Bisnis Indonesia, 14 Agustus 2003 dari AC Nielsen).

Penduduk Indonesia sebagai penduduk kelima terbanyak didunia (setelah China,India, AS, dan Rusia) dengan kondisi perekonomian mayoritas rumah tangga menengah ke bawah tersebar di lebih dari 30 provinsi di berbagai pulau. Menurut perhitungan BPS, parakonsumen Indonesia menghabiskan US$100 per orang per tahun untuk belanja di riteltradisional atau sekitar Rp 150 triliun setelah perhitungan kurs yang berlaku dan jumlah penduduk. Pasar ritel Indonesia pada tahun 2003 diperebutkan oleh pengecer modern dan pengecer tradisonal. Pasar tradisional, dalam wujud warung, toko, pasar, mengalami penurunan pangsa pasar dari 79,8% menjadi 73,8%, meskipun dalam nilai omzetmenunjukkan kenaikan dari Rp 145,5 triliun ke Rp 196,3 triliun.Jumlah gerai di Indonesiamenurut penelitian AC Nielsen (Bisnis Indonesia, 20 Agustus 2004) adalah ritel modern5.079 gerai dan ritel tradisional1.745.589 gerai.Jadi peminat pasar eceran atau bisniseceran tradisional paling besar.

Kecamatan Kepanjen pada tahun 2006 tercatat sebanyak 89 usaha dagang yangterdaftar resmi pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Malang termasuk usaha dagang eceran.Jumlah 89 ini terbagi menjadi 3 SIUP (Surat Ijin Usaha Perdagangan)yaituSIUP besar = 3; SIUP menengah = 7; SIUP kecil 79 usaha. Yang membedakan antaraSIUP besar, menengah, dan kecil adalah dilihat dari modal awal usaha dagang tersebutdimulai. Jika SIUP besar memiliki modal awal antara Rp.500 juta ; SIUP menengah denganmodalawal antara Rp.500.000–Rp 5.000.000dan SIUP kecil modal awal dibawah Rp500.000
Jika diperhatikan sudah banyak toko eceran yang awalnya hanyalah merupakan usahakecil-kecilan kini telah menjadi usaha retail yang cukup besar dan berkembang  sehingga mampu bersaing dengan minimarket. Bahkan dari segi penyediaan barang dan pelayanan pun tidak kalah dengan minimarket. Berkembangnya usaha eceran sendiri dikarenakansemakin majunya masyarakat dan meningkatnya kebutuhan yang segera dipenuhi, olehkarena itu kahadiran toko eceran menjadi alternatif bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya.

Bagaimana cara pengusaha retailer itu sendiri untuk dapat mempertahankan usahatoko ecerannya salah satunya dengan pengembangan bauran pemasaran atau disebut marketing mix yang meliputi lokasi, merchandise (barang yang dijual),ketetapan harga, promosi ,atmosfer dalam toko dan retail service. Marketing mix merupakan tool atau alat bagi marketer yang terdiri dari berbagai elemen suatu program pemasaran yang perludipertimbangkan agar implementasi strategi pemasaran dan positioning yang ditetapkandapat berjalan sukses.

Masalah dan tujuan :

Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka rumusan masalah yang akan dikajidalam penelitian ini adalah:

1.Apakah Marketing Mix yang meliputi Lokasi, Merchandise, Pricing, PromosiPenjualan, Atmosfer dalam Toko dan Retail Service berpengaruh terhadap usaha toko eceran tradisional di Kepanjen Kabupaten Malang terhadap keputusan pembelian konsumen baik secara simultan maupun parsial?

2.Variabel Marketing Mix yang manakah diantara Lokasi, Merchandise, Pricing, Promosi Penjualan, Atmosfer dalam Toko dan Retail Service yang berpengaruh dominan terhadap keputusan pembelian konsumen toko eceran tradisional diKepanjen Kabupaten Malang?

Tujuan Penelitian

1.Untuk mengetahui pengaruhnMarketing Mix terhadapusaha toko eceran tradisionaldi Kepanjen kabupaten Malang terhadap keputusan pembelian konsumen secara simultan dan parsial.

2.Untuk mengetahui pengaruh yang dominan dari variabel Marketing Mix terhadapkeputusan pembelian konsumen ditoko eceran tradisional di Kepanjen kabupatenMalang.

METODOLOGI :

Data dan Variabel

Metode pengumpulan data dengan menggunakan cara observasi dan wawancara yang dibantu dengan kuesioner (daftar pertanyaan) dengan melakukan pengujian Validitas dan Realibilitas terhadap instrumen pertanyaan terlebih dahulu. Alat analisis statistik digunakan untuk menguji hipotesis dengan uji t untuk pengaruh individual/ parsial dan Uji F untuk pengaruh simultan. Sedangkan untuk mengetahui hubungan dan pengaruh antara variabel-variabelnya digunakan alat analisis statistik Korelasi dan Regresi Linier Berganda dibantu dengan software program SPSS.

Variabel Penelitian

Ada dua variabel yang diteliti yaitu terdiri dari Variabel Independen yaitu strategi pemasaran toko eceran dengan pengembangan unsur-unsur marketing mix (X), yang terdiri dari enamdimensi, yaitu: a) Lokasi (X1) yaitu lokasi lalu lintas pejalan kaki, lalu lintas kendaraan ,adanya, dilewati transportasi umum, dekat dengan pusat pembelanjaan lain. b). Merchandise (X2) adalah menyediakan barang yang bermutu, memperhatikan kelengkapan barang, memahami apa yang dibutuhkan oleh konsumen disekitarnya. c). Pricing (X3) adalah menetapkan harga jual yang cukup murah atau sesuai dengan harga yang ditetapkan produsen selalu mencari informasi tentang naik-turunnya harga terutama pada barang- barang yang bermerek. d). Promosi Penjualan (X4) adalah dapat memberikan hadiah langsung, penukaran kupon belanja, memberikan souvenir dan lain-lain bertujuan untuk menarik konsumen. e)Atmosfer dalam Toko (X5) adalah memperbaiki desain toko baik luar dan dalam toko, penataan barang-barang yang baik dan rapi sehingga mempermudah konsumen untuk melihat barang-barang yang dijual, menciptakan suasana yang bagus, memberikan ventilasi udara yang cukup.f) Retail Service (X6) adalah meningkatkan pelayanan, menyediakan lahan parkir sehingga mempermudahkan konsumen yang ingin berkunjung, menyediakan fasilitas tambahan seperti tempat duduk, toilet dll.Serta Variabe l Dependen yaitu Keputusan pembelian (Y) adalah keputusan yang diambil oleh konsumen dalam memperoleh produk yang dinginkan guna memenuhi kebutuhan, sebagai perilaku konsumen sebelum pembelian suatu barang yang akan dibelinya.

Metode Penelitian

Penelitian ini bersifat korelasional dengan hubungan (asosiatif) antara dua variabe l atau lebih, menggunakan 100 responden sampe l yaitu konsumen yang berkunjung di toko eceran tradisional yang diteliti di Jalan Trunojoyo, Ksatrian dan Jalan Panji. Teknik  pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling.

Model penelitian

Model regresi yang digunakan dalam penelitian dikatakan sudah baik atau tidak terjadi multikolinearity yaitu bila tidak ada korelasi antara variabel bebas (independen). Apabila nilai VIF kurang dari 10 dan nilai tolerance lebih dari 0,1 maka tidak terjadi multikolonieritas pada model regresi. Tabel 3 menunjukkan bahwa nilai VIF kurang dari 10dan nilai tolerance di atas 0,1. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa data-data dalam penelitian ini tidak terjadi multikolonieritas.

Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi. Sedangkan untuk menguji ada tidaknya autokorelasi dalam suatu persamaan, bila nilai DW terletak diantara batas atas (du) dan batas bawah (dl) atau DW terletak antara (4-du) dan (4-dl), dandari hasil pengujian ditemukan bahwa besarnya nilai DW (Durbin-Watson) sebesar 1,825 yaitu terletak diantara batas atas atau upper boundn (du = 1,80) dan (4-1,80), sehingga hal ini dikatakan tidak ada autokorelasi.

Hasil Penelitian

Kecamatan Kepanjen merupakan salah satu wilayah Kabupaten Malang yang dahulu merupakan wilayah pembantu Bupati di Kepanjen. Hingga tahun 2006, Kepanjen memiliki89 usaha dagang yang resmi tercatat pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Malang. Jumlah 89 ini terbagi menjadi 3 SIUP (Surat Ijin Usaha Perdagangan) yaitu SIUP besar = 3; SIUP menengah = 7 dan SIUP kecil 79 usaha. Pembagian ini didasarkan pada modal awal usaha dagang tersebut dimulai, jika modal awal Rp 500 juta termasuk SIUP besar, antara Rp 500.000–Rp. 5.000.000 termasuk SIUP menengah dan di bawah Rp500.000 termasuk SIUP kecil.

Gambaran umum responden adalah berjenis kelamin perempuan (62 orang), berusiaantara 31–40 tahun, ibu rumah tangga dan memiliki pendapatan antara 1–2 juta per  bulan. Dari data penduduk kecamtan Kepanjen menurut mata pencaharian dapat dirinci bahwa sebagian besar penduduk Kec. Kepanjen memiliki mata pencaharian sebagai petani (12.401 orang) dan pedagang (5.178 orang) serta buruh (5.038 orang sedangkan dari data penduduk berusia 10 tahun keatas yang bekerja diperoleh data bahwa sektor perdagangan merupakan mata pencaharian kedua (9.911 orang) bagi masyarakat kepanjen setelah sector pertanian (23.361 orang). Hal ini menunjukkan bahwa sektor perdagangan memiliki kontribusi yang relatif besar bagi perekonomian masyarakat Kepanjen.( BPS KotaKabupaten Kepanjen, 2006). Hasil pengujian validitas dan reliabilitas instrumen diperoleh bahwa semua item dalam setiap variabel dinyatakan ‘valid’ dan “reliabel’ karena memiliki nilai Rxy di atasnilai kritis (critical value) seperti tertera dala tabel 1 dan 2 dibawah.

TABEL 1
HASIL UJI VALIDITAS ITEM PERTANYAAN
Nomor Item
Koefisien Korelasi
Critical Value
Kesimpulan
lokasi (X1)



1
0,714
0,195
Valid
2
0,712
0,195
Valid
3
0,809
0,195
Valid
4
0,695
0,195
Valid
marchandise (X2)



1
0,816
0,195
Valid
2
0,858,
0,195
Valid
3
0,701
0,195
Valid
Pricing (X3)



1
0,789
0,195
Valid
2
0,760
0,195
Valid
3
0,776
0,195
Valid
Promosi Penjualan (X4)



1
0,742
0,195
Valid
2
0,803
0,195
Valid

0,755
0,195
Valid
Atmosfer dlm toko (X5)



1
0,786
0,195
Valid
2
0,843
0,195
Valid
3
0,782
0,195
Valid
Retail Service (X6)


1
0,809
0,195
Valid
2
0,834
0,195
Valid
3
0,796
0,195
Valid

Dari hasil melalui proses pengolahan data dengan menggunakan analisis regresi berganda signifikan pada α = 0,05 dapat disusun dalam persamaan regresi sebagai berikut:

Y = 0,443 + 0,134 X1+ 0,198X2+ 0,177X3+ 0,155 X4+ 0,189X5+ 0,144X6

Hasil analisis pada tabel diatas dapat dipahami bahwa variabel bebas X1-X6 secara bersama-sama (simultan) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikat Y(F hitung = 65,272>F tabel = 2,19,sign=0,000). Dengan demikian, keputusan terhadap Ho ditolak dan Ha diterima sehingga hipotesis I yang dikemukakan dapat dibuktikan kebenarannya.Hasil uji tdapat dijelaskanbahwa: a) Variabe l Lokasi (X1)(thitung(x1) =2,054 >ttabel = 1,6614) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel keputusan pembelian (Y) b)Variabel Merchandise (X2)(thitung(x2)= 2,902 >ttabel = 1,6614) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel keputusan pembelian (Y)c)Variabel Pricing (X3) (thitung(x3) = 2,441 >ttabel = 1,6614) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel keputusan pembelian (Y)d)Variabel Promosi Penjualan (X4)(thitung(x4)= 2,179>ttabel  =1,6614) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel keputusan pembelian (Y)e)Variabel Atmosfer dalam Toko (X5)(thitung(x5) = 2,315 >ttabel =1,6614) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel keputusan pembelian (Y)f) Variabel RetailService (X6)(thitung(x6)= 2,033>ttabel  = 1,6614) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel keputusan pembelian (Y).

Dari uraian hasil uji t menunjukkan bahwa semua variabel bebas (X1-X6) secara parsial memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel terikat (Y), dengan demi kian hipotesis I yang dikemukakan diterima. Sedang kan variabel bebas yang memiliki pengaruh dominan terhadap keputusan pembelian adalah merchandise (X2) karena memiliki koefisien regresi (β) paling besar yaitu 0,212 jika dibandingkan dengan variabel bebaslainnya. Dengan demikian hipotesis IIyang menyatakan bahwa diduga persediaan barang/merchandise
(X2) mempunyai hubungan dan pengaruh dominan terhadap keputusan pembelian (Y) dapat diterima. Dari hasil uji kesesuaian model diketahui besarnya R 2 (koefisien determinasikorelasi berganda)=0,808 atau 80,8% sedangkan sisanya dapat diatikan bahwa sebesar 19,2% dipengaruhi oleh variabel bebas lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini.Nilai yang mendekati 1 menunjukkan bahwa kontribusi variabel bebas secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel terikat sehingga model yang digunakan dapat dikatakan baik. Hasil uji asumsi klasik yang dilakukan dengan 4 kriteriauji asumsi klasik dilakukan dengan 4 kriteria, yaitu multikolinieritas, autokorelasi, normalitas dan heterokedastisitas.

 KESIMPULAN DAN SARAN

Hasil uji validitas dan reliabilitas dapat disimpulkan bahwa semua item adalah validdan reliabel, karena memiliki nilai Rxy di atas nilai kritis (critical value).Dari hasil uji asumsi klasik, diketahui bahwa model regresi terhindar dari multikolinearity karena memiliki nilai VIF kurang dari 10dan nilai tolerance di atas 0,1;terhindar dari autokorelasi dengan nilai DW 1,825; terhindar dari keterokedastisitas karena grafik plot antara nilai prediksi variabel terikat dengan residualnya menyebar dantidak membentuk pola tertentudan memenuhi asumsi normalitas karena garis yang menggambarkan data sesungguhnya mengikuti garis diagonalnya.

Diketahui nilai Fhitung = 65,272 lebih besar dari F tabel = 2,19 yang berarti bahwa variabel bebas X1-X6 secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan denganvariabel terikat Y, sedangkan hasil uji tmenunjukkan bahwa semua variable bebas (X1-X6)secara parsial memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel terikat (Y), sehingga hipotesisI yang di kemukakan dapat diterima.

Disimpulkan bahwa variabel bebas yang memiliki pengaruh dominan terhadap keputusan pembelian adalah merchandise (X2) karena memiliki koefisienregresi (β) paling besar yaitu 0,212 jika dibandingkan dengan variabel bebas lainnya.  Dengan demikian hipotesis II yang menyatakan bahwa diduga persediaan barang/merchandise (X2) mempunyau hubungan dan pengaruh dominan terhadap keputusan pembelian (Y) dapat diterima. Besarnya proporsi kontribusi variabel bebas terhadap variabel terikat diketahui koefisien determinasi korelasi berganda (R 2) sebesar 0,808 atau 80,8% sedangkan sisany adapat diartikan bahwa sebesar 19,2% dipengaruhi oleh variabel bebas lainyang tidak termasuk dalam penelitian ini.

Dari hasil penelitian dapat diperoleh suatu implikasi bahwa hendaknya pemilik toko eceran dapat menyediakan produk-produk yang disesuaikan dengan identifikasi konsumen, seperti produk kebutuhan ibu rumah tangga, yangberusia antara 31–40 tahun dan memiliki pendapatan antara 1–2 juta. Hal ini perlu dilakukan agar produk yang dijual toko eceran sesuai dengan kebutuhan dan daya beli konsumen.Pemilik toko eceran di Kepanjen hendaknya memperhatikan dan meningkatkan factor Lokasi, Merchandise, Pricing , Promosi Penjualan, Atmosfer dalam Toko dan Retail Service agar Keputusan Pembelian yang dilakukan konsumen dapat meningkat. Pemilihan lokasi toko hendaknya lebih diperhatikan, seperti dilalui kendaraan umum, dekat dengan pemukiman penduduk, dan memiliki lokasi parkir yang memadai. Harga hendaknya ditetapkan minimal sama dengan toko lain terutama untuk produk sejenis atau sedikit dibawah toko lain, pemberian diskon, souvenir padawaktu-waktu tertentu atau pada pelanggan yang sering membeli dalam jumlah besar, agar dapat menarik  perhatian konsumen untuk membeli barang di toko eceran. Kenyamanan di dalam toko seperti disain interior dan eksterior yang memadaidan suhu udara yang segar hendaknya dapat terus dipertahankan atau bahkan ditingkatkan, agar konsumen merasa senang dan betah berada di dalam toko sehingga akan melakukan pembelian kembali di waktu yang akan datang.


Analisis Jurnal 2

Tema  : keputusan pembelian produk organik
Judul : GREEN MARKETING DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN MELALUI MINAT MEMBELI PRODUK ORGANIK 
Pengarang  : ALLEN  A. CH. MANONGKO
Tahun  : 2007

Latar belakang :

Permasalahan lingkungan dan kesehatan yang secara langsung dan tidak langsung diakibatkan oleh aktivitas manusia, baik di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, pertanian, ekonomi dan bisnis, telah menjadi issue sentral di semua kalangan. Kepedulian dan kesadaran akan lingkungan dan kesehatan, telah merubah cara pandang dan pola hidup dari manusia dan para pelaku usaha. Hal ini ditunjukkan pada perubahan pola pendekatan bisnis yang mulai mengarahkan usaha dengan pendekatan aktivitas bisnis berbasis kelestarian lingkungan. 

Pemasaran yang berbasis pada kelestarian lingkungan “environmental marketing” merupakan perkembangan baru dalam bidang pemasaran, dan merupakan suatu peluang yang potensial dan strategis yang memiliki keuntungan ganda (Multiplier effect) baik pelaku bisnis maupun masyarakat sebagai pengguna. 

Pendekatan Pemasaran hijau (green marketing approach ) pada area produk diyakini dapat meningkatkan integrasi dari isu lingkungan pada seluruh aspek dari aktivitas perusahaan, mulai dari formulasi strategi, perencanaan, penyusunan, sampai produksi dan penyaluran atau distribusi dengan pelanggan. Sebagaimana oleh Pride and Ferrell, 1993  dalam Nanere (2010),  mengatakan bahwa green marketing  dideskripsikan sebagai usaha organisasi atau perusahaan mendesign, promosi, harga dan distribusi produk-produk yang tidak merugikan lingkungan.  Pujari dan Wright (1995) mengungkapkan bahwa pemasar (marketer) perlu memandang fenomena tersebut sebagai satu hal yang berpotensi sebagai peluang bisnis. 

Kalafatis et al., (1999) mengatakan bahwa para pemasar memandang fenomena dalam lingkungan pemasaran sebagai kesempatan bisnis dalam upaya perusahaan mengembangkan dan mengimplementasikan rencana jangka panjangnya secara proaktif pada strategi lingkungan perusahaan. Ottman (1994) mengatakan bahwa saat ini perhatian pemasar harus banyak dicurahkan pada environmental marketing. Implikasi yang paling signifikan dari kondisi tersebut bagi pemasar barang dan jasa adalah bahwa tindakan konsumen didasarkan atas nilai-nilai melalui kekuatan keputusan pembelian konsumen (Dharmmesta, 1997). Czinkota and Ronkainen (1992) dalam Lozada (2000) mengemukakan bahwa perusahaan akan dapat memperoleh solusi pada tantangan lingkungan melalui marketing strategic, produk, dan pelayanan agar dapat tetap bersaing. Byrne (2003) mengungkapkan bahwa environmental atau green marketing (pemasaran hijau) merupakan fokus baru dalam usaha bisnis, yaitu sebuah pendekatan pemasaran strategik yang mulai mencuat dan menjadi perhatian banyak pihak mulai akhir abad 20. Kondisi ini menuntut pemasar (marketer) untuk lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan yang melibatkan lingkungan. 

Di samping itu, perusahaan menggunakan istilah pemasaran hijau (green marketing), sebagai upaya mendapatkan kesempatan untuk meraih tujuan perusahaan. Hal ini terlihat pada perhatian pelaku bisnis terhadap isu-isu lingkungan dan kesehatan dengan meningkatnya pasar yang peduli lingkungan (Laroche, et al., 2001). Bahkan ditunjukkan dengan maraknya para pelaku bisnis yang menerapkan standar internasional atau lebih dikenal dengan 

ISO-14000. Untuk pemasaran produk organik di Indonesia, faktor-faktor yang mempengaruhi minat membeli dan keputusan pembelian masih terbaungkus dalam konsep bauran pemasaran dan karakteristik demografi (Haryadi, 2009; Ardianti, 2008; Junaedi, 2007). 

Oleh karena itu, green marketing oleh beberapa peneliti dianggap gagal dalam memberikan kontribusi lebih lanjut pada isu lingkungan dan kesehatan atas pengintegrasian potensi keunggulan bersaing dengan kepedulian lingkungan sebagai strategi bisnis (Buchholz, 1998; Hawken, et al., 1999; Straughan & Roberts, 1998; Vlosky, et al., 1999 dalam Byrne, 2002). Jika isu lingkungan (polusi, perlindungan terhadap spesies, dan produk yang dapat di daur ulang) memiliki arti penting bagi konsumen dalam memilih produk, dan jika suatu perusahaan di dalam pasar menjadi satu-satunya yang memberi tawaran dengan suatu bauran pemasaran lingkungan di antara para pesaingnya, maka perusahaan harus memiliki strategic competitive advantage yang tinggi (Cravens, 2000). 

Kilbourne (1998) melaporkan bahwa kegagalan pemasaran hijau yang bergerak melampaui keterbatasan paradigma yang berlaku. Walaupun ada perkembangan makro yang baru dalam pemikiran pemasaran yang mengarah pada pemasaran hijau keberlanjutan dengan berpikir secara holistik. Namun keterbatasan paradigma yang berlaku tersebut, jika masih dalam lintasan disiplin yang sama, dipastikan tidak berubah, kecuali menggabungkan beberapa dimensi secara multidisiplin untuk dikembangkan. Kline mengidentifikasi daerah-daerah yang harus diperiksa atas pengaruh pemasaran lingkungan yaitu ekonomi, politik dan dimensi teknologi, budaya.

Masalah dan tujuan :

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan diatas, dapatlah dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
Apakah Green Marketing berpengaruh terhadap Minat membeli Produk Organik?
Apakah Green Marketing berpengaruh terhadap Keputusan Pembelian Produk Organik?
Apakah Minat membeli berpengaruh terhadap terbentuknya Keputusan Pembelian Produk Organik?
Apakah Green Marketing berpengaruh terhadap  Keputusan pembelian melalui Minat membeli Produk Organik?

Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah:
Menguji dan menganalisis pengaruh Green Marketing terhadap Minat membeli Produk Organik.
Menguji dan menganalisis apakah Green Marketing berpengaruh terhadap Keputusan Pembelian Produk Organik.
Menguji dan menganalisis pengaruh Minat membeli terhadap terbentuknya  Keputusan Membeli Produk Organik.
Menguji dan menganalisis apakah Green Marketing berpengaruh terhadap  Keputusan pembelian melalui Minat membeli Produk Organik.

METODOLOGI PENELITIAN

Jenis Penelitian
Berdasarkan pola hubungannya, jenis penelitian ini adalah explanatory research yang menjelaskan hubungan kausal antara variabel-variabel penelitian melalui pengujian hipotesa (Singarimbun dan Efendi, 1995:5). Sedangkan pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif, yaitu penelitian dengan pendekatan angka-angka baik dalam pengumpulan data, analisa data hingga interpretasi data didasarkan pada hasil

Hasil Analisis Deskripsi Variabel Green Marketing (X1)
Adapun hasil analisis deskrpsi variabel Green Marketing disajikan sebagai berikut:
Variabel Green Marketing (X1) diukur oleh empat indikator yaitu Produk (X1.1), Harga (X1.2), Tempat (X1.3), dan Promosi (X1.4). 

Untuk indikator Produk (X1.1), dari tujuh item pertanyaan, mayoritas responden menjawab setuju pada item nomor 2, 3, 4, 5, 6, dan 7, dan mayoritas responden menjawab sangat setuju pada item nomor 1. Dari nilai rata-rata berkisar antara 3.96 hingga 4.54, dan rata-rata skor indikator ini adalah 4.16 yang berada pada kategori kuat (rata-rata skor antara 3.41 hingga 4.20). Artinya Produk (X1.1) sebagai pengukur Green Marketing (X1) dipersepsi kuat oleh responden. 

Dari keempat indikator pengukur Green Marketing (X1) terlihat bahwa keempatnya dipersepsi kuat oleh responden, dengan indikator Produk (X1.1) sebagai indikator terkuat (4.16), sedangkan indikator Promosi (X1.4) sebagai indikator terlemah (3.66). Dan dari tinjauan interpretasi skor, dengan nilai rata-rata variabel Green Marketing (X1) diperoleh 4.00 berada pada kategori kuat (skor antara 3.41 hingga 4.20). 

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa variabel Green Marketing (X1) berada dalam kategori dipersepsikan kuat oleh responden, hal ini menggambarkan bahwa perhatian terhadap Green Marketing oleh pelanggan atau konsumen dalam melakukan pembelian produk organik pada Supermarket - Supermarket  di Kota Manado dipersepsikan kuat atau sebagai suatu pertimbangan penting. analisa data yang berupa angka. Sedangkan unit analisis yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah individu konsumen yang melakukan pembelian pada supermarket-supermarket yang menjual produk organik di kota Manado. 

Tempat/Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di beberapa pasar modern (Fresh Supermarket, Golden Supermarket, dan Gelael Supermarket) yang terdapat di kota Manado dan sekitarnya. Waktu penelitian adalah studi satu tahap (one-shot study) atau cross-sectional, dimana data hanya sekali dikumpulkan, dalam satu periode waktu (Sekaran, 2006:177). 

Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan pelanggan yang melakukan pembelian produk organik pada Supermarket  dan di wilayah Kota Manado. Dalam penelitian ini, jumlah sampel dalam penelitian ini berjumlah 120 responden, berdasarkan rekomendasi asumsi yang mendasari alat analisis jalur (path analysis), yakni minimal sebanyak 100 responden (Sarwono, 2007:2). Setelah ditentukan jumlah sampel yang akan dijadikan responden, maka penarikan sampel menggunakan pendekatan Non-probability sampling, dikarenakan besarnya populasi tidak diketahui (Maholtra, 2005) dengan jenis sampling yang dipilih yaitu purposive sampling atau sampel bertujuan secara subjektif (Ferdinand, 2006). Pemilihan jenis ini berdasarkan penilaian dan kriteria tertentu yang dapat mewakili baik statistik, signifikansi, dan prosedur pengujian hipotesisnya (Ferdinand, 2006). Adapun kriteria yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah responden yang membeli dan mengkonsumsi produk organik. 

Teknik Pengambilan Data
a) Kuisioner; b) Wawancara; c) Studi Pustaka 

Instrumen Penelitian

Instrumen pengukuran variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala likert, untuk mengukur sikap, pendapat dan presepsi seseorang atau sekelompok tentang kejadian atau gejala sosial (Sarwono, 2007). 

Identifikasi Variabel Penelitian

Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai orang, objek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu dan ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari, dan ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2004). 
1. Konstruk Eksogen (variabel independen):  Green Marketing (X1).
2. Konstruk Intervening : Minat Membeli (X2).
3. Konstruk Endogen (variabel dependen): Keputusan Pembelian (Y).

Metode Analisis Data

Analisis Statistik Deskriptif

Tujuan penggunaan analisis ini adalah untuk mengungkap gambaran data yang telah dikumpulkan dari lokasi penelitian. Pendeskripsian dapat dilakukan dengan cara menginterpretasikan hasil pengolahan data melalui tabulasi frekuensi guna mengungkapkan kecendrungan data nominal empirik seperti rata-rata hitung (mean), nilai tengah (median), nilai terbanyak (modus), nilai terendah (minimum), nilai tertinggi (maksimum). Hasil analisis deskriptif berguna untuk mendukung penafsiran atau interpretasi hasil analisis dengan teknik lainnya.

Analisis Inferensial

Untuk mendapatkan hasil penelitian yang representative, maka data-data yang telah dikumpulkan perlu diolah dengan menggunakan alat analisis yang tepat. Berdasarkan kerangka teoritik dan konseptual serta hipotesis pada penelitian ini, maka model analisis yang digunakan adalah analisa faktor konfirmatori (confirmatory faktor analysis) dan analisis jalur (path analysis), dengan menggunakan bantuan software SPSS 15 (Statistical Package for Social Science). 

Analisis Faktor Konfirmatori 

Metode analisa faktor akan digunakan pada indikator-indikator pengukur variabel green marketing, minat membeli, dan keputusan pembelian.  Di satu sisi analisa faktor digunakan untuk mereduksi dengan cara pengelompokan beberapa indikator berdasarkan matrik korelasinya menjadi variabel-variabel yang lebih sedikit jumlahnya yang disebut faktor, dan dilanjutkan dengan perhitungan skor faktor dari variabel baru tersebut. 
Prosedur yang dilakukan dalam analisa faktor ini adalah sebagai berikut: merumuskan masalah, membuat matriks korelasi, menentukan jumlah faktor, rotasi faktor, interpretasi faktor, dan menentukan ketepatan model (Malhotra, 1993:622).
a. Merumuskan Masalah; b. Membuat Matriks Korelasi; c. Penentuan Jumlah Faktor; d. Rotasi Faktor; e. Interpretasi Faktor; f. Penentuan Skor Faktor; g. Penentuan Ketepatan Model.

 Analisis Jalur ( Path Analysis)

Metode untuk menganalisa data dalam penelitian ini menggunakan analisa jalur. Menurut Riduwan dan Kuncoro (2007) menyatakan bahwa analisis jalur digunakan untuk menganalisis pola hubungan antar variabel dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh langsung maupun tidak langsung seperangkat variabel eksogen terhadap variabel endogen. Koefisien path ini menunjukkan seberapa besar pengaruh perubahan satu variabel terhadap variabel yang lain. 

Model Analisis Penelitian

Persamaan untuk model hipotesis jalur adalah: 
ZX2 = PX2X1 ZX1 + e1
ZY = PYX1 ZX1 + PYX2 ZX2 + e2

Hasil Analisis Deskripsi Variabel Green Marketing (X1) 

Adapun hasil analisis deskrpsi variabel Green Marketing disajikan sebagai berikut:
Variabel Green Marketing (X1) diukur oleh empat indikator yaitu Produk (X1.1), Harga (X1.2), Tempat (X1.3), dan Promosi (X1.4). 
Untuk indikator Produk (X1.1), dari tujuh item pertanyaan, mayoritas responden menjawab setuju pada item nomor 2, 3, 4, 5, 6, dan 7, dan mayoritas responden menjawab sangat setuju pada item nomor 1. Dari nilai rata-rata berkisar antara 3.96 hingga 4.54, dan rata-rata skor indikator ini adalah 4.16 yang berada pada kategori kuat (rata-rata skor antara 3.41 hingga 4.20). Artinya Produk (X1.1) sebagai pengukur Green Marketing (X1) dipersepsi kuat oleh responden. 

Dari keempat indikator pengukur Green Marketing (X1) terlihat bahwa keempatnya dipersepsi kuat oleh responden, dengan indikator Produk (X1.1) sebagai indikator terkuat, sedangkan indikator Promosi (X1.4) sebagai indikator terlemah (3.66). Dan dari tinjauan interpretasi skor, dengan nilai rata-rata variabel Green Marketing (X1) diperoleh 4.00 berada pada kategori kuat (skor antara 3.41 hingga 4.20). 

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa variabel Green Marketing (X1) berada dalam kategori dipersepsikan kuat oleh responden, hal ini menggambarkan bahwa perhatian terhadap Green Marketing oleh pelanggan atau konsumen dalam melakukan pembelian produk organik pada Supermarket - Supermarket  di Kota Manado dipersepsikan kuat atau sebagai suatu pertimbangan penting.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Dari hasil analisis dan pembahasan, penelitian yang berjudul Green Marketing dan Pengaruhnya Terhadap Keputusan Pembelian Melalui Minat Membeli Produk Organik (Studi pada Pelanggan Produk Organik di Kota Manado), dapat disimpulkan sebagai berikut:
Green Marketing memiliki pengaruh secara signifikan terhadap Minat membeli pada pelanggan atau konsumen Produk organik. Hasil ini sesuai dengan temuan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa  green marketing berpengaruh signifikan terhadap minat membeli (Haryadi, 2009; Tarkiainen and Sundqvist, 2006). Green marketing yaitu kualitas produk, harga, tempat/saluran distribusi dan promosi memberikan pengaruh terhadap nilai minat membeli pelanggan . Artinya semakin tinggi nilai green marketing, akan semakin tinggi pula minat membeli produk organik di kota Manado.  

Green Marketing tidak memiliki pengaruh secara signifikan terhadap keputusan pembelian Produk organik pada pelanggan atau konsumen. Hasil ini menjelaskan bahwa keputusan aktual dan frekwensi pembelian dari keputusan pembelian tidak terpengaruh oleh green marketing yaitu kualitas produk, harga, tempat/saluran distribusi dan promosi. Artinya seberapa besarnya nilai green marketing, tidak menjadi ukuran konsumen atau pelanggan memutuskan untuk membeli produk organik di kota Manado.  

Minat membeli memiliki pengaruh secara signifikan keputusan pembelian produk organik pada pelanggan atau konsumen Produk organik. Hasil ini sesuai dengan temuan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa  minat membeli berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian (Tarkiainen and Sundqvist, 2006; Magistris dan Gracia (2008) dan Kalafatis (1999). Hasil ini dapat dijelaskan bahwa minat membeli yaitu sikap, norma subjektif dan kontrol perlaku memberikan pengaruh signifikan terhadap terbnetuknya keputusan pembelian produk organik pelanggan. Artinya semakin tinggi nilai minat membeli, akan semakin meningkat pula keputusan pembelian produk organik di kota Manado.  

Minat membeli yang ditempatkan sebagai interviening memberikan pengaruh secara signifikan antara Green Marketing dengan keputusan pembelian Produk organik. Hal ini sejalan dengan kajian teoritis Ajzen (1988) bahwa minat merupakan variabel antara dalam membentuk perilaku / keputusan pembelian. Hasil ini dapat dijelaskan bahwa minat membeli  dapat menjadi mediasi hubungan antara green marketing terhadap keputusan pembelian  Artinya semakin tinggi nilai green marketing dan minat membeli akan semakin tinggi pula keputusan pembelian pada konsumen/ pelanggan produk organik di kota Manado. 

Saran 
Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan pada bab terdahulu, sekaligus menjawab tujuan dan manfaat dari penelitian ini, maka beberapa saran yang dapat dikemukakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 

Untuk pengembangan ilmu pemasaran, dapat disarankan bahwa adanya pengaruh tidak langsung antara green marketing terhadap keputusan pembelian melalui minat membeli. Sesuai pendekatan Theory of palnned behavior (Ajzen, 1988, 1991) yang meletakkan variabel minat sebagai interviening dapat diterapkan dalam penelitian-penelitian berikutnya. Untuk itu, konsep green marketing dalam dunia pemasaran, khususnya pemassaran produk organik perlu diimplementasikan lebih lanjut.  

Untuk pemilik/pengelola supermarket/swalayan dan  produsen/suplier produk organik, hendaknya memperhatikan implementasi Green Marketing yang terdiri atas kualitas produk, harga, tempat, dan promosi. Dengan demikian akan meningkatkan minat membeli produk organik yang terlihat dari peningkatan sikap, norma subjektif dan kontrol perilaku dari konsumen. Sehingga secara tidak langsung akan dapat meningkatkan keputusan pembelian oleh konsumen yang dapat dilihat dari peningkatan keputusan aktual dan frekuensi pembelian. Implementasi yang dapat dilakukan oleh pemilik seperti pelatihan, pengarahan dan pengawasan terhadap karyawan yang berada pada lokasi produk organik, sehingga konsumen atau pelanggan dapat melihat dan memperoleh jawaban yang mungkin ditanyakan. Hal ini diyakini akan membuat minat membeli konsumen menjadi lebih besar. 

Untuk pemerintah, program “Go Organik 2010” yang telah dicanangkan, perlu dilanjutkan dan dilestarikan agar pemahaman akan produk organik dapat lebih baik, sehingga dapat berpengaruh pada semakin sering dan banyaknya pengguna produk ini. Dan terkait dengan masalah lingkungan dan kesehatan dipastikan hijau dan sehat, sebagai konsekwensi positifnya.  

Rekomendasi penelitian yang akan datang:
a. Dalam penelitian ini, masalah  lingkungan dan kesehatan belum dimasukkan sebagai variabel penelitian, untuk itu peneliti merekomendasikan penelitian yang akan datang, dapat meletakkan kedua masalah ini dijadikan variabel.
b. Dengan menggunakan alat analisis jalur peneliti telah memperoleh hasil penelitian ini, namun sangat dimungkinkan bila penelitian yang akan datang mencoba dengan alat analisis lain seperti Model persamaan struktural.

Buscar

 

Labels

rinna rinna rinna Copyright © 2011 | Tema diseñado por: compartidisimo | Con la tecnología de: Blogger